Informasi Sekolah

Sisi Local Genius Pada Bangunan Masjid Tradisional

Akulturasi budaya merupakan proses bercampurnya dua atau lebih kebudayaan karena percampuran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi, yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia akulturasi budaya sangat lekat dengan perkembangan islam di Nusantara. Menurut KH. Abdurrahman Wahid, islam di Indonesia itu timbul dari basis kebudayaan, jika itu dihilangkan maka akan ada dua kemungkinan, yaitu pertama kebudayaan akan mati. Kedua, islam akan hancur (Gus Dur sabda perubahan). Dari apa yang dikatakan oleh salah satu bapak bangsa tersebut, diartikel ini akan membahas tentang salah satu bentuk akulturasi budaya dalam masuknya islam di nusantara yaitu pada bidang seni bangunan.

Seni bangunan yang sangat identik dengan islam dan local nusantara adalah seni bangunan masjid. Kenapa masjid? karena masjid adalah tempat beribadah bagi orang Islam yang pastinya menjadi suatu icon tersendiri bagi orang yang bersembahyang disana dengan keadaan sekitar masjidnya. Masjid merupakan sebuah salah satu obyek yang digunakan oleh umat islam untuk berkomunikasi dengan Allah SWT.

Perkembangan Islam yang cepat menyebabkan muncul tokoh ulama atau mubaliqh yang menyebarkan Islam melalui pendidikan dengan mendirikan pondok-pondok pesantren. Islam juga disebarkan melalui kesenian, misalnya melalui pertunjukkan seni gamelan ataupun wayang kulit. Dengan demikian Islam semakin cepat berkembang dan mudah diterima oleh rakyat Indonesia.

Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak kebudayaan yang dipengaruhi oleh “budaya Hindu dan Budha” yang sangat melekat erat pada masyarakat nusantara. Masuknya Islam, Indonesia kembali mengalami proses akulturasi. Masuknya Islam tersebut tidak berarti kebudayaan nenek moyang hilang. Ajaran Islam mulai masuk ke Indonesia sekitar abad penyebaran awal Islam di Nusantara seperti yang dijelaskan di atas. Kendati dalam hal ini sebelum mengetahui alasan apa yang menyebabkan perubahan bentuk maupun struktur dari bentuk masjid itu sendiri dapat dilihat dari ciri khasnya.

Bangunan masjid-masjid tradisional di Indonesia memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Pertama, atapnya berupa atap tumpang. Atap tumpang bentuknya bersusun – susun, semakin ke atas semakin kecil dan tingkat yang paling atas berbentuk limas. Jumlah tumpang biasanya selalu gasal/ ganjil, ada yang tiga, ada juga yang lima. Ada pula yang tumpangnya dua, tetapi yang ini dinamakan tumpang satu, jadi angka gasal juga. Atap yang demikian disebut meru. Atap masjid biasanya masih diberi lagi sebuah kemuncak/ puncak yang dinamakan mustaka. Bentuk ini mengingatkan kita pada bentuk atap candi yang denahnya bujur sangkar dan selalu bersusun serta puncak stupa yang adakalanya berbentuk susunan payung-payung yang terbuka. Masjid dengan bentuk seperti ini mendapat pengaruh dari Hindu-Buddha.

Bangunan masjid di Nusantara rata – rata terbuat dari kayu, ada beberapa [biasanya 4 buah] pilar berbentuk bulat atau segi melambangkan 4 mazhab, mimbar berupa tangga untuk khotib terbuat dari kayu, bagian atap pakai genting tanpa kubah, beduk terbuat dari kayu biasanya pohon besar yang dipahat bagian dalamnya sedemikian rupa & kulit binatang. Di sekitar masjid biasanya terdapat kolam untuk berwudlu. Biasanya dilengkapi gapura. Biasanya terdapat pemakaman di sekitar masjid. Tidak ada menara yang berfungsi mengumandangkan adzan, berbeda dengan masjid-masjid di luar indonesia yang umumnya terdapat menara. Hanya ada beberapa bangunan masjid yang menggunakan menara yaitu : Masjid Agung Cirebon, Masjid Menara Kudus, Masjid Agung Banten yang digunakan untuk mengumandangkan adzan.

Pada masjid-masjid tradisional di Indonesia untuk menandai datangnya waktu salat dengan memukul bedhug atau kenthongan. Yang istimewa dari Masjid Kudus dan Masjid Banten adalah menaranya yang bentuknya begitu unik. bentuk menara Masjid Kudus merupakan sebuah candi langgam Jawa Timur yang telah diubah dan disesuaikan penggunaannya dengan diberi atap tumpang. Pada Masjid Banten, menara tambahannya dibuat menyerupai mercusuar.

Masjid umumnya didirikan di ibu kota atau dekat istana kerajaan. Ada juga masjid-masjid yang dipandang keramat yang dibangun di atas bukit atau dekat makam. Di Indonesia biasanya penepatan masjid (khususnya Masjid Agung) diatur sedemikian rupa sesuai dengan komposisi macapat, dimana masjid diletakkan di sebelah barat alun-alun dekat dengan istana, yang merupakan simbol bersatunya rakyat dan raja. Masjid- masjid di zaman Wali Sanga umumnya berdekatan dengan makam raja maupun keturunan-keturunan dari kerajaan daerah itu berdiri dan menganggap itu adalah sakral juga biasanya terdapat suatu sumber seperti air yang di kolam ataupun pemandian maupun sumur bekas dari kerajaan yang masih ada dan dilestarikan yang mana biasanya air yang terdapat di sana dipercaya mampu untuk menyembuhkan penyakit atau dan lain sebagainya sehingga banyak masyarakat pula yang menjadikan tempat untuk ziarah makam kepada orang-orang terdahulu.

Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat soko guru yang menopang dua tumpuk atap tajuk. Sedangkan di bagian puncak atap tajuk terdapat semacam mustoko yang berarti kepala seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada elemen arsitektur Jawa-Hindu.

Jika dilihat dari berbagai sudut pandang, masjid dalam perkembangannya bukan saja menjadi pusat ibadat khusus seperti salat dan i’tikaf, akan tetapi juga mempunyai peranan yang lebih luas menjangkau berbagai aspek kehidupan manusia. Dilihat dari sejarah masjid menjadi penopang utama kemajuan peradaban umat manusia. Pada penyebaran pertama kali masuknya islam para ulama dan wali melakukannya tidak lepas peran masjid itu sendiri. Masjid pada saat itu menjadi pusat bertemunya para ulama dan wali untuk merancang strategi dakwah yang relevan dengan kebudayaan masyarakat.

Melalui peran masjid sebagai pusat dakwah atau transmisi Islam, ajaran Islam mampu diterima oleh masyarakat Indonesia tanpa kekerasan, perkelahian atau perang. Kearifan para Wali Sembilan melalui desain bangunan masjid yang mengakomodasikan model bangunan lokal dan menghargai kesucian tempat-tempat peribadatan lama, berhasil memikat hati masyarakat. Bahkan dengan memanfaatkan bangunan masjid secara optimal, para wali di Jawa, misalnya, berhasil menyiapkan sistem pemerintahan Kerajaan Demak, sehingga sampai pada akhirnya pimpinan Demak dapat diislamkan dan Demak menjadi kerajaan dengan sistem Pemerintahan Islam pertama di Jawa.

Perkembangan selanjutnya, masjid mampu menjadi simbol kebudayaan dari kota-kota Kerajaan Islam di Nusantara. Dalam perencanaan awal mula kota-kota kuno di Jawa, masjid menjadi salah satu hal penting menyangkut elemen pembangunan perkotaan. Seperti di Cirebon, Demak. Semarang, Yogyakarta, dan juga Pakualaman. Hal ini dapat kita identifikasikan jika masjid memiliki fungsi penting dalam sistem pemerintahan dan tempat pembelajaran ilmu pengetahuan bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa. Masjid memberikan peran dalam menggoreskan sejarah peradaban manusia. Masjid adalah salah satu saksi di masa lain tentang sebuah kejayaan peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Dalam pembangunannya sebenarnya tidak jauh dari konsep Macapat: Mancapat berasal dari kata “papat” sebagai urutan dalam hitungan Jawa keempat. Bahwa konsep macapat membagi ruang menjadi empat bagian yang masing-masing mewakili suatu unsur kehidupan atau memanifestasikan makna dalam kehidupan. Pada kosmologi Jawa, kehidupan tidak lepas dari unsur-unsur alam yang ada yaitu api, air, bumi, dan udara, termasuk juga elemen arah yaitu timur, barat, utara, selatan. Sistem macapat memegang peran penting dalam membangun mentalitas orang Jawa, karena berfungsi sebagai sistem klasifikasi. Sistem macapat merupakan prinsip filosofis yang membagi ruang dalam empat bagian utama sesuai dengan empat arah mata angin dengan pusat berada di tengah atau disebut dengan pancer. Filsafat mancapat kemudian dikenal dengan macapat lima pancer.

Sistem macapat mencerminkan keunggulan pusat. Pusat kota berupa alun-alun dikelilingi oleh beberapa bangunan penting masyarakat, seperti pendopo pemerintahan, masjid besar, pasar, dan sekolah. Sistem ini banyak digunakan pada jaman dahulu sebagai penarik minat masyarakat dalam kegiatan kecil maupun besar yang terjadi pada kota tersebut. Pendirian masjid biasanya ditandai dengan adanya prasasti yang tertulis pada dinding serambi masjid.

Letak masjid yang berada di sisi barat alun-alun juga nampak peran perhitungan kosmologi Jawa. Kehidupan berawal dari timur bersamaan dengan terbitnya matahari sebagai simbol kelahiran manusia. Manusia dalam hidupnya tidak lepas dari kesalahan akibat cara sikap dan perbuatan selama berinteraksi dengan manusia. Interaksi itu digambarkan dengan berkumpulnya manusia dalam alun-alun (lapangan) yang terletak di tengah, sebelum akhirnya manusia akan mati dalam kegelapan bersamaan dengan tenggelamnya matahari. Karena itu, sebelum mencapai ajal, manusia harus melewati masjid untuk menyucikan diri. Masjid sebagai tempat mensucikan diri ini disimbolkan dengan adanya kolam maupun tempat untuk berwudlu.

Makna lain dari mustaka yang banyak digunakan yaitu sirip dengan ornamen daun kluwih yang mengandung arti linuwih. Dengan sirip tiga linuwih yang dimaksudkan yaitu iman, Islam dan Ikhsan yang terpancar pada empat penjuru mata angin. Simbolisasi makna ini dimaksudkan bahwa seorang muslim harus senantiasa memiliki sifat-sifat luhur yang bisa menjadi suri tauladan di masyarakat.

Bagian dalam masjid terdapat ruang utama yang biasanya berfungsi sebagai tempat jemaah untuk menunaikan ibadah salat berjamaah. Maksura yaitu tempat perlindungan raja dalam menjalankan salat, mimbar untuk khotbah, dan ruang untuk penjaga serta gudang. Ruang utama biasanya berbentuk bujur sangkar yang dibatasi dinding pada setiap sisinya dengan penonjolan pada bagian mihrab. Ruang utama pasti mempunyai ruangan yang cukup besar agar dapat menampung jumlah jamaah yang banyak. Ruang utama umumnya digunakan sebagi tempat salat. Pada bagian lainnya dalam ruang utama dipisahkan untuk tempat salat kaum wanita dan anak-anak. Kemudian terdapat ruang serambi yang merupakan ruangan lebar terbuka berfungsi untuk pelaksanaan kegiatan keagamaan, serta tempat menyimpan beduk untuk memberi tanda waktu salat hal ini dapat kita temui pada masji-masjid di Indonesia.

Mihrab terletak di sisi barat laut masjid sebagai tanda arah, tepatnya di bagian tengah dari dinding barat masjid dan berjumlah satu buah. Pembangunan mihrab ini memiliki pertimbangan sendiri karena pada salat berjamaah pasti ada Imam yang tidak boleh sejajar dengan mukmin.

Penempatan serambi biasanya terletak pada bagian depan masjid dan kadang terletak pada kedua sisi masjid atau biasa disebut emperan masjid. Bentuk serambi ada yang terbuka maupun yang tertutup. Serambi dianggap sebagai bangunan profan karena fungsinya sebagai penunjang ruang utama di dalam bangunan masjid. Ruangan utama hanya boleh dipergunakan untuk salat. Sedangkan serambi selain untuk tempat salat, juga sebagai tempat untuk penyelenggaraan peringatan hari-hari besar Islam. Dahulu serambi bahkan digunakan sebagai tempat pengadilan agama. Serambi sebagai penunjang ruang utama masjid dapat digunakan apabila selepas waktu salat ruang utama ditutup, maka orang yang tidak mengikuti salat pada awal waktu dapat menyusul atau melakukannya sendiri di serambi. Atap serambi merupakan bagian yang disebut atap emper dari atap limasan. Selain itu serambi juga dapat digunakan untuk tempat bersantai sejenak.

Pondasi merupakan komponen bangunan yang menghubungkan bangunan dengan tanah. Dalam mendirikan bangunan di atas pondasi, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah kedalaman atau ketebalan lapisan tanah, terutama pada lapisan tanah yang akan menerima beban, serta kekokohan landasan dan keadaan hidrolog. Masjid-masjid besar umumnya menggunakan pondasi yang dikenal masyarakat arsitektur Indonesia. Pondasi ini secara teknik akan lebih mengokohkan bangunan. Pondasi bangunan yang terkenal biasa disebut dengan cakar ayam.

Di dalam masjid pasti terdapat ornamen-ornamen yang memilki nilai luhur seperti ornamen-ornamen di sisi dinding, mimbar, maupun bagian ventilasinya. Ornamen-ornamen tersebut memiliki pengharapan yang positif bagi kehidupan jamaah tersebut dan selalu memiliki sifat-sifat terpuji.

Simbolisasi makna-makna lain secara lebih utuh pada bangunan masjid yang mengandung nilai-nilai yaitu dapat dilihat dari perpaduan struktur bangunaan. Atap berbentuk piramida bersusun ganjil, ruang-ruang yang harus dilewati sebelum menuju pengimaman, dan gapura-gapura yang melengkapi bangunan masjid. Atap dan gapura masjid melambangkan bangunan candi dimana pada bangunan candi terdapat tingkatan sebelum menuju puncak.

Akhirmya dapat kita ketahui bahwasannya dalam pembangunan masjid yang ada di Indonesia khususnya Jawa itu tidak lepas dari konsep Jawanya yaitu macapat, begitu pula pada sistem pemerintah dari jaman dahulu peran masjid sangat penting bagi pembangunan kota sebagai pusat pembelajaran masyarakatnya. Jika dikuak lebih dalam peranan masjid itu sendiri memiliki pengaruh yang sangat besar dalam peradaban umat manusia beserta kebudayaannya yang dipilah secara penuh pertimbangan dengan kebudayaan lama. Dalam perkembangan Islam di Jawa khususnya, banyak tokoh-tokoh yang berpartisipasi dalam pembangunan masjid itu dengan mengambil pengaplikasian terhadap konsep mancapat. Dilihat dari sudut pandang lain, di dalam masjid terdapat bagian-bagian dari masjid itu sendiri yang memiliki fungsi berdasarkan pembagian dalam pembangunannya seperti yang terdapat di atas.

Setiap bagiannya memiliki fungsi dan manfaat yang baik bagi para jamaahnya. Penempatan setiap elemen juga dipertimbangan menurut dengan artian yang menjadi kepercayaan masyarakat setempat dalam penempatan masjid di sistem pemerintahan dengan menempatkannya di sebelah barat alun-alun kota. Hal tersebut mengidentifikasikan bahwa manusia lahir diandaikan dengan terbitnya matahari di sebelah Timur. Pada alun-alun kota diandaikan bahwa manusia penuh akan dosa dengan sikap dan perbuatan antar interkasi manusia. Dan sebelum mati manusia akan melewati tahap mensucikan diri atau upaya untuk meminta ampun kepada ilahi yang disimbolkan masjid. Dalam masjid itu terdapat bagian-bagian yang digunakan untuk kegiatan-kegiatan keagamaan para jamaahnya.