Informasi Sekolah

Judul Esai

“Gerakan 5M Dalam Mengubah Karakter Negeri”

 

Diajukan untuk mengikuti

KOMPETISI ESAI NASIONAL

BENGKEL JOURNALIST EVENT 2017

MII KMFM

UNIVERSITAS GADJAH MADA

 

Diusulkan oleh:

Devi Erlindhea Fitri

Ayu Wandana

 

SMA Negeri 2 Ponorogo

Ponorogo

2017

 

HALAMAN ORISINALITAS

 

Yang bertanda tangan di bawah ini,

Nama Ketua : Devi Erlindhea Fitri

Tempat, Tanggal, Lahir : Ponorogo, 26 Desember 2000

Kelas : XI MIPA

Asal Sekolah : SMA Negeri 2 Ponorogo

 

Nama Anggota : Ayu Wandana

Tempat, Tanggal Lahir : Ponorogo,  8 April 2001

Kelas : X IPS 1

Asal Sekolah : SMA NEGERI 2 PONOROGO

Dengan ini menyatakan bahwa esai dengan judul:

“ Gerakan 5M Dalam Mengubah Karakter Negeri ”

Adalah benar-benar hasil karya sendiri dan bukan merupakan plagiat atau saduran dari karya orang lain serta belum pernah dilombakan dan dipublikasikan dalam bentuk apapun. Apabila di kemudian hari pernyataan ini tidak benar maka saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh panitia BEJO Event 2017 berupa diskualifikasi dari kompetisi.

Ponorogo, 21 Oktober 2017

 

 

Gerakan 5M Dalam Mengubah Karakter Negeri

Devi Erlindhea Fitri – Ayu Wandana

SMA Negeri 2 Ponorogo

 

 

Menurut Henry Guntur Tarigan, seorang penulis kelahiran 1985 mengartikan bahwa menulis merupakan kegiatan menuangkan ide atau gagasan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai media penyampai. Menulis memiliki fungsi sebagai media untuk melukiskan perasaan sang penulis. Dengan menulis, seolah-olah kita bisa menggenggam dunia di dalam telapak tangan kita. Dengan menulis, kita juga dapat menciptakan dunia kita sendiri yang tentunya berbeda dengan realita yang terjadi di dunia.

Kehidupan pada masa lampau (praaksara) yaitu kehidupan dimana manusia yang ada di bumi belum mengenal tulisan. Sebagian besar arkeolog dan para sejarawan mengungkapkan jika manusia modern belum mengenal tulisan seperti pada zaman praaksara, maka tidak akan lahir teknologi-teknologi seperti pada zaman sekarang. Manusia akan berada dalam kondisi tersulit mengingat SDM yang rendah akibat tidak ada tulisan. Maka dari itu, menulis sangatlah penting bagi kehidupan.

Menulis bisa mengakibatkan terbentuknya sejarah-sejarah pada masa lampau yang tentu saja akan sangat berarti bagi kita. Pada tahun 1800-an, kegiatan menulis sangat banyak digemari oleh para penulis pada masa itu, bagi mereka menulis tak hanya sekedar hobi yang disalurkan dalam kehidupan sehari-hari. Menulis adalah seni, kebudayaan, bentuk sosial dan bisa menunjukkan betapa cerdasnya seseorang. Orang-orang pada masa ini, mengirimkan kabar kepada kerabat mereka melalui surat. Tentu saja, datangnya surat bisa sampai satu bulan untuk daerah yang jauh. Namun, melalui menulislah mereka bisa menghargai kebersamaan, dan waktu. Mereka mencintai kerabatnya, membuat perasaan mereka berdebar karena menunggu balasan surat dari kerabat.

Sebenarnya, hal tersebut tak jauh beda dengan era modern seperti sekarang. Manusia pada era kita juga masih membiasakan kegiatan menulis dalam bentuk komunikasi. Namun, tentu saja banyak perbedaan yang terjadi. Jika dahulu, orang menulis berlembar-lembar kertas kemudian dikirimkan melalui pos

dan menunggu jawaban surat sebulan atau lebih, berbeda dengan teknologi zaman sekarang yang mengirim satu huruf saja terasa biasa saja, menerima jawaban juga hanya dalam hitungan detik. Sebagian besar, remaja zaman sekarang tidak tertarik dalam hal tulis-menulis. Mereka menggangap bahwa menulis termasuk hal yang membuang waktu mereka. Kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk bermain bersama temannya, menonton film digital, atau bermain media sosial. Padahal, jika dilogika, film digital diciptakan melalui karya tulis berupa “scenario”. Selain itu, di dalam media sosial juga dipenuhi dengan berbagai bentuk karya tulis. Sehingga, secara tidak langsung kita juga melakukan kegiatan tulis-menulis di berbagi media sosial.

Teknologi komunikasi pada zaman sekarang ini, tentu saja membuat banyaknya generasi tidak menghargai apa yang ada di dekat mereka. Sebenarnya benar, media sosial memang mendekatkan yang jauh, namun juga menjauhkan yang dekat. Bayangkan saja, remaja zaman sekarang berkumpul dengan teman-temannya, namun apa yang terjadi? Mereka malah sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.

Tak hanya remaja, para orang tua, bahkan anak-anak yang dibawah umurpun terkadang menyalahgunakan informasi yang ada. Jika zaman dahulu, sebagian informasi kemungkinan bisa dipercaya karena informasi yang sulit didapat. Berbeda jauh dengan era sekarang, dimana informasi-informasi itu bisa dikelola lagi dan diubah isinya, bisa disebut berita hoax.

Hoax dalam kehadirannya sangat multioperasional. Tak jarang, bagi sebagian politisi, hoax dijadikan alat politik untuk menyisihkan para lawan-lawan politiknya. Dalam dunia bisnis, hoax juga difungsikan untuk mendepak pesaing-pesaing bisnisnya, bahkan isu agama sengaja dipelintir untuk menebar fitnah, cacian dan penistaan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan operasionalisasi hoax ini. Sebagai akibat, dunia pers dan independensi dan kenetralannya terancam karena eksistensi dari apa yang disebut sebagai hoax ini.

Hampir dapat dipastikan bahwa kegemilangan kaum muda telah sirna bersama dengan tenggelamnya tradisi-tradisi bacaan dan pengetahuan oleh ulah sendiri yang dengan sendirinya meniscayakan munculnya peradaban baru mengganti peradaban yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain terjadi

pergeseran kebudayaan yang mengakibatkan runtuhnya peradaban gemilang yang sebelumnya pernah tertorehkan.

Dengan permasalahan yang seperti itu, maka dapat diketahui bahwa karakter remaja Indonesia saat ini dikenal dengan sifat kemalasan. Karakter merupakan suatu watak atau sifat batin yang memengaruhi segenap fikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki oleh manusia atau makhluk hidup lainnya. Di hukum alam, manusiawi memiliki kecenderungan dorongan nafsu untuk melakukan beberapa tindakan keburukan sesuai kehendak dirinya. Keburukan tersebut menjadi persoalan pada bidang kajian akhlak. Dalam dimensi, fitrah manusia telah dikenal sebagai sifat buruk utama yakni malas, nifaq, dan pengecut. Membahas tentang sifat malas, sebagian dari kita mungkin tidak dapat melepaskan sifat tersebut.mpada hakikatnya, malas merupakan kondisi dimana kita telah kehilangan beberapa energy. Di lihat dari keadaan yang realita, orang yang malas lebih sering rehat dan berpangku tangan, menunda pekerjaan, dan beraktifitas tanpa kesungguhan. Sedangkan nifaq merupakan kenampakan keislaman dan kebaikan, tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan.

Remaja zaman sekarang seharusnya mulai menyadari betapa pentingnya menghilangkan sifat-sifat yang menjerumuskan diri mereka sendiri. Sebaiknya, mereka menggunakan media sosial sebagai ajang menulis untuk menciptakan dunia yang lebih berwarna, merubah kengerian yang terjadi akibat berita hoax, dan mementingkan kebersamaan. Menulis, memang cara yang terbaik yang dapat dilakukan oleh para remaja zaman sekarang. Mereka yang sudah sok puitis membuat status-status dimedia sosial, mengapa tidak dibukukan? Mereka yang menyebarkan berita-berita hoax, mengapa tidak diakhiri saja dan menulis berita sebagaimana fakta. Karakter yang kuat pada setiap individu sangat penting untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemajuan bangsa. Sehingga, strategi apa yang harus digunakan dalam mengubah karakter masyarkat yang seperti itu?.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Donie Koesumo A. memahami karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari

bentukan-bentukan yang diterima oleh lingkungan (Muslich: 2011). Dengan demikian, karakter merupakan watak atau kepribadian seseorang dan dapat dibentuk dari lingkungan.

Karakter yang diharapkan oleh negara pada setiap warganya ialah karakter yang baik. Seorang tokoh pendidikan karakter, Thomas Lickona (2004) mengemukakan ciri orang yang memiliki karakter yang baik antara lain mereka mengetahui hal yang baik (knowing the good), menginginkan hal yang baik (desiring the good), dan melakukan hal yang baik (doing the good). Karakter bangsa yang diharapkan oleh negara Indonesia mengacu pada nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, peraturan pemerintah dan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Mengacu pada Undang-undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 mengenai tujuan pendidikan nasional, watak atau karakater yang diharapkan ialah beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Karakter yang baik yang tertanam kuat pada setiap individu sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seorang cendekiawan Republik Roma, Marcus Tulius Cicero menyatakan bahwa kesejahteraan sebuah bangsa bermula dari karakter kuat warganya (Lickona: 2004). Sehubungan dengan pentingnya karakter, Bung Karno pernah mengatakan bahwa bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter karena karakter inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju, dan jaya serta bermartabat (Soedarsono: 2009).

Seperti yang diungkapkan oleh sejarawan ternama, Arnold Toynbee bahwa dari dua puluh satu peradaban dunia yang tercatat, sembilan belas hancur bukan karena penaklukan dari luar, melainkan karena pembusukan moral dari dalam (Lickona: 2004). Saat ini, kita sering mendengar berita tentang kekerasan, pembunuhan, pelecehan seksual, penyalahgunaan narkoba, dan tindakan kriminal lainnya. Korupsipun telah merajalela di Indonesia. Pada tanggal 30 Januari 2016, Transparency International merilis indeks korupsi negara-negara dunia tahun 2015 dan Indonesia menempati peringkat 86 dari 168 negara yang dinilai.

Akhir-akhir ini kita juga diresahkan dengan kasus LGBT (Lesbian Gay Biseksual Transgender) yang mulai masuk ke Indonesia dan menyuarakan persamaan HAM kepada pemerintah di negara kita. Padahal hal tersebut tidak sesuai dengan norma adat, agama dan sosial bangsa kita serta merupakan suatu perilaku penyimpangan seksual. Masalah-masalah tersebut terjadi salah satunya disebabkan oleh terkikisnya karakter bangsa dimana warga negara kita kurang menjunjung tinggi dan mulai melupakan nilai dan norma yang ada. Jika kita membiarkan karakter bangsa semakin melemah dan semakin terbawa arus globalisasi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa maka bukannya tidak mungkin negara kita akan semakin terpuruk dan hancur.

Generasi merupakan aset yang akan menentukan bagaimana kondisi negara ini nantinya, apakah akan tetap berada dalam keterpurukan moral dan karakter dimana penyimpangan terjadi dimana-mana ataukah menjadi negara yang penduduknya aman, tentram dan sejahtera. Jika kita tengok kembali sejarah perjalanan bangsa Indonesia dulu, banyak angkatan sastrawan angkatan 1945 yang realistik. Karyanya banyak mengungkapkan tentang isi hati nurani dan alam kemerdekaan. Angkatan sastrawan tersebut seperti Chairil Anwar, Asrul Sani, Trisno Sumardjo. Sastrawan-sastrawan tersebut memiliki ciri khas dalam menulis yang berbeda-beda tentunya. Sehingga gerakan 5M ini memiliki andil besar dalam peristiwa sumpah pemuda 1928, gerakan menuju kemerdekaan 1945, lahirnya Orde Baru tahun 1966 dan Reformasi tahun 1998.

Bangsa kita dihadapkan pada tantangan yang berat untuk memantapkan karakter dan jati dirinya sebagai agen perubahan, sebagai generasi penerus yang akan menyampaikan nilai-nilai dan menyebarkan kebaikan pada masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Generasi sekarang sudah waktunya untuk menggantikan generasi terdahulu yang karakter dan perilakunya sudah rusak serta menyimpang negatif yang telah mengancam sendi-sendi kehidupan di negara kita.

Usaha yang bisa dilakukan dalam memperbaiki sendi-sendi kehidupan negara yaitu dengan gerakan 5M. Pertama, menyadari pentingnya karakter. Kita harus sadar mengapa karakter itu penting dan harus bisa mengetahui akibat

apabila karakter baik tidak tumbuh dalam dirinya. Sebab, jika kita menyadari akan pentingnya karakter maka kita kan menjadi pribadi yang lebih maju.

Kedua, mengembangkan karakter dalam dirinya. Setelah sadar akan kedua hal di atas, kita hendaknya mengembangkan dan terus memupuk karakter dalam dirinya. Banyak nilai-nilai luhur yang bisa dikembangkan, antara lain kejujuran, kerja keras, keberanian, kepedulian, menghargai perbedaan, menjaga lingkungan, menghormati orang lain, memegang amanah, bersikap sopan santun, percaya diri, rajin, dan sebagainya.

Ketiga, mengamalkan secara konsisten karakter yang baik tersebut dalam keseharian. Sadar dan mengembangkan karakter yang baik saja tidak cukup jika karakter tersebut tidak melekat secara tetap dalam diri kita. Oleh karena itu, karakter yang baik harus diamalkan secara konsisten. Hal ini bisa diterapkan dari hal kecil selama duduk di bangku sekolah, seperti bersungguh-sungguh dalam belajar, belajar bersama dalam kelompok untuk membantu teman yang kesulitan belajar, menghargai pendapat orang lain pada saat kegiatan diskusi serta jujur saat ujian. Hal ini secara tersirat mengajarkan kepada kita bahwa dalam hidup harus bersungguh-sungguh, membantu saat orang lain kesusahan, menghargai orang lain, serta jujur dalam perkataan dan perbuatan. Tidak perlu menunggu nanti saat kita menjadi mahasiswa bahkan ketika terjun di masyarakat. Karena kita dapat memupuk dan menerapkan nilai-nilai luhur tersebut hingga terbentuk menjadi karakter yang mantap dalam diri saat masih mengenyam pendidikan. Apa langkah berikutnya jika karakter yang mantap sudah ada dalam diri kita?

Langkah yang keempat ialah memberikan contoh (teladan) kepada orang lain. Dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, secara tidak langsung kita memberikan teladan kepada orang lain. Dalam lingkungan keluarga misalnya, hal-hal kecil seperti bersikap sopan santun dan berbicara ramah kepada orangtua merupakan teladan yang baik kepada adik-adik kita.

Langkah yang kelima adalah mengajak masyarakat untuk menyadari dan mengembangkan karakter yang baik. Tugas kita bukan sekedar duduk belajar di bangku sekolah tetapi juga menerapkan dan menyebarkan ilmu yang kita miliki. Termasuk mengajak dan menggerakkan masyarakat kepada perubahan menuju kebaikan dan perbaikan. Misalkan melalui kegiatan-kegiatan kecil seperti bakti

sosial, gerakan peduli lingkungan, penyuluhan dan sosialisasi pentingnya karakter, maupun kegiatan-kegiatan lain yang sifatnya mengajak masyarakat untuk menyadari pentingnya karakter dan terus mengembangkan karakter yang baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita sebagai pelajar tidak boleh melupakan tugas utamanya yaitu belajar. Melalui belajar, kita dapat membekali diri dengan berbagai ilmu dan pengetahuan. Mengikuti perkembangan teknologi dan informasi dengan tetap berpegang teguh pada nilai dan norma yang ada, serta memperkuat mental dan spiritual. Dengan bekal-bekal yang diperoleh selama mengenyam pendidikan, maka karakter yang mantap serta semangat jiwa muda yang dimilikinya diharapkan dapat memainkan perannya sebagai agen perubahan, sebagai kaum yang kritis, intelektual, dan idealis yang dapat mengkritisi kondisi yang terjadi pada bangsa kita dan melakukan gerakan-gerakan untuk memulihkan kondisi yang tidak baik serta mendukung hal-hal yang sesuai dengan nilai-nilai luhur dan cita-cita bangsa kita. Sehingga, dari strategi 5M dapat diharapkan agar kita bisa menyadari pentingnya karakter, mengembangkan karakter dalam diri, mengamalkan secara konsisten karakter yang baik, memberikan contoh (teladan) kepada orang lain, mengajak masyarakat untuk menyadari dan mengembangkan karakter yang baik agar tertanam kepribadian karakter negeri yang intelektual.

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. Ikatan Alumni Lemhannas. Kompendium Konsepsi Pemikiran Strategik Ikatan Alumbi Lemhannas. 2003-2007, Jakarta : Prof Hajar

 

Atqiya Nurul. 2011. Mahasiswa Dukung Indonesia Berkarakter

 

Destiara, Cahaya. 2013 Kamis Desember 19th. Chairil Anwar Book.

 

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online

 

Muslich.2011

 

Soedarsono, Soemarno. 2009. Karakter Mengantar Bangsa Dari Gelap Menuju Terang. PT Elex Media Komputindo, Jakarta

 

Tarigan, Henry Guntur. 1985a. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa

 

Tarigan, Henry Guntur. 1985b. Pengajaran Kosa Kata. Bandung: Angkasa

 

Thomas Lickona .2004