Informasi Sekolah

20 Menit Mengubah Dunia

Diajukan untuk mengikuti
KOMPETISI ESAI NASIONAL
BENGKEL JOURNALIST EVENT 2017
MII KMFM
UNIVERSITAS GADJAH MADA

Diusulkan Oleh:
Nevia Roxanne Belva Mazidah
Meisya Andjani Nagaya Dara

SMA NEGERI 2 PONOROGO
KABUPATEN PONOROGO
2017/2018

20 Menit Mengubah Dunia
Disusun Oleh:
• Nevia Roxanne Belva Mazidah
• Meisya Andjani Nagaya Dara
SMAN 2 PONOROGO
Jl. Pacar No. 24 Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur Kode Pos. 63418
Telp. (0352) 462166 E-mail: sman2ponorogo@gmail.com

Membaca adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan suatu informasi dari sebuah bacaan, sedangkan menulis adalah kegiatan yang dilakukan dengan tujuan menangkap ilmu dari sebuah bacaan. Membaca dan menulis sangat erat kaitannya. Jika membaca saja tetapi tidak di tampung kedalam tulisan, maka kegiatan membaca akan sia-sia. Jika menulis saja tetapi tidak mengetahui dasarannya maka tulisan tersebut juga akan sia-sia. Kegiatan membaca serta menulis resume dari bacaan dapat meningkatkan daya ingat seseorang. Karena ketika seseorang membaca lalu menulis ulang isi bacaan tersebut, maka secara tidak langsung seseorang akan mengulang ingatannya kembali ketika menulis.

Hal yang sangat dibutuhkan pelajar saat ini adalah kreativitas. Kreativitas pelajar dapat dikembangkan jika pola pikirnya juga berkembang. Sedangkan Indonesia sendiri memiliki pola pikir yang masih sederhana. Artinya, pola pikir pelajar Indonesia masih belum berkembang. Kita dapat mengembangkan pola pikir dengan membaca, selain itu kita juga dapat mengabadikannya dengan menulis. Di Indonesia, kegiatan membaca dan menulis sangat memprihatinkan. Menurut Annies Baswedan membaca dan menulis sampai saat ini masih sulit diterapkan. Berdasarkan data UNESCO, presentase minat baca di Indonesia hanya sebesar 0,01 persen. Jika membaca saja masih malas, maka menulis juga akan menjadi hal berat bagi masyarakat.

Tragedi nol buku disampaikan oleh Taufiq Ismail, seorang sastrawan senior dalam sebuah audiensi dengan komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) pada tahun 2010 lalu. Tragedi nol buku merupakan sebuah ungkapan keprihatinan Taufiq Ismail terhadap rendahnya budaya baca di Indonesia. Keprihatinan Taufiq Ismail tersebut didukung oleh fakta dari berbagai lembaga yang dikemukakan oleh studi Programme for Internasional Student Assessment (PISA) pada tahun 2009 tentang minat baca terhadap 65 negara. PISA mengemukakan bahwa Indonesia menempati urutan ke-57 dari 65 negara yang di teliti.

Banyak permasalahan di sekitar kita yang timbul di kehidupan sehari-hari. Kita dapat mengambil contohnya di sekolah-sekolah, sebagai seorang pelajar terkadang saya juga merasa terbebani sebab banyaknya buku pelajaran yang harus saya baca dan saya tulis kembali. Hal ini menyebabkan pola pikir pelajar tentang membaca menjadi buruk, sehingga menyebabkan kurangnya minat baca. Buku bacaan yang kurang menarik juga menjadi penyebab kurangnya minat baca untuk para pelajar. Sungguh membosankan apabila kita terus-terusan memaksa melakukan hal yang tidak kita sukai.

Membaca dan menulis dapat menghasilkan suatu karya, apabila kita menekuninya. Karya inilah yang kita butuhkan untuk mengubah pola pikir masyarakat sehingga bisa berfikir logis. Di era globalisasi seperti sekarang, kita tidak boleh tertinggal oleh perkembangan zaman, tetapi Indonesia masih tertinggal jauh dari negara lain. Beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut yaitu karena kurangnya pengetahuan. Minat baca dan tulis yang rendah menjadi penyebab utama hal itu terjadi. Berdasarkan studi dari “Most Littered Nation in the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada bulan Maret 2016 lalu, Indonesia menduduki peringkat ke 60 dari 61 negara mengenai minat baca.

Fahira Idris Wakil Ketua Komite III DPD Fahira Idris mengatakan, semua negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Perancis, dan Jerman adalah negara yang mendominasi penerbitan buku di dunia. Beliau juga menuturkan, selain masalah anggaran, sistem belajar mengajar, kompetensi guru, infrastruktur serta pemanfaatan teknologi, rendahnya minat baca juga sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan di Indonesia. Krisis membaca dan menulis di negara kita semakin parah seiring berkembangnya teknologi.

Masyarakat Indonesia tidak sadar bahwa sebenarnya mereka sudah diracuni oleh teknologi. Sangat disayangkan jika hal tersebut semakin parah. Masyarakat Indonesia lebih banyak mencari informasi dari televisi, radio, dan internet daripada buku atau media baca lainnya. Menurut Subekti Makdriani, perpustakawan utama Perpus RI saat menjadi pembicara Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca di Provinsi dan Kabupaten atau Kota pada tahun 2017, di Pendopo Kabupaten Kendal, pengaruh internet juga banyak mempengaruhi minat baca di Indonesia. Sebanyak 132,7 juta orang Indonesia pada 2016 tercatat sebagai pengguna internet. Sedangkan data Perpustakaan Nasional mencatat, 86,3 juta jiwa berada di Jawa. Menurut beliau, tidak tersedianya sarana-prasarana pendukung serta majunya teknologi dapat menurunkan minat baca, sehingga secara otomatis kegiatan menulis juga menurun.

Kita mudah sekali terjerumus aliran zaman yang mengubah pola pikir kita menjadi malas. Padahal dengan membaca kita juga akan mampu memilah mana yang baik dan yang buruk, sehingga kita mengetahui cara pemanfaatan teknologi yang benar. Menurunnya kegiatan membaca dan menulis ini juga mempengaruhi jumlah karya yang dihasilkan anak bangsa. Jika dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Jepang, Jerman, Amerika Serikat, dan juga Inggris, kita masih tertinggal jauh.

Finlandia juga merupakan negara maju yang minat bacanya tinggi. Menurut riset yang dilakukan oleh Jhon W. Miller, presiden Central Connecticut State University yang secara resmi dirilis oleh The World’s Most Literate Nations pada 2016 lalu, Finlandia dianggap sangat sukses dalam menumbuhkan budaya membaca bagi masyarakatnya. Sementara Indonesia berada diurutan terakhir. Negara-negara maju mampu mengembangkan teknologi karena mereka mau untuk berkembang. Di Indonesia sendiri, yang dilakukan masyarakatnya hanyalah menikmati hasil dari negara lain, tetapi tidak berfikir untuk dapat mengubah nasib Indonesia supaya bisa menjadi negara yang berpengaruh. Kita belum memiliki kemauan untuk belajar dari negara lain yang semakin berkembang.

Perkembangan Indonesia saat ini berada di tangan pelajar. Dengan membaca, akan banyak ilmu yang terserap, sehingga sudut pandang mengenai masalah menjadi luas. Dengan begitu, kita dapat berfikir logis. Kasus malas membaca yang dialami pelajar adalah masalah serius yang perlu ditangani. Jika seorang pelajar malas membaca, maka ilmu yang didapat akan sedikit, sehingga jika pelajar tersebut dihadapkan dengan masalah, dikhawatirkan pelajar tidak bisa menyelesaikan masalahnya. Seperti yang terjadi pada kita saat ini. Selain dengan membaca, menulis juga dapat mengembangkan pola pikir pelajar Indonesia. Dengan membaca dan menulis, kreativitas pelajar akan terbentuk. Jika seseorang hobi menulis, maka secara tidak langsung ia berlatih untuk berkarya.

Pramoedya Ananta Toer merupakan pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Beliau telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan kedalam lebih dari 41 bahasa asing. Karya-karyanya mampu mengubah dunia, bahkan setelah beliau wafat pada 30 April 2006. Beliau berkata bahwa seseorang boleh pandai setinggi langit, tapi selama dia tidak menulis, dia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Harapannya, masyarakat Indonesia mampu mengikuti jejak beliau. Jika, seseorang sadar dan mempunyai semangat untuk membaca dan menulis, pasti pola pikirnya akan berkembang serta kreativitasnya akan terpancing. Kita dapat melihat di kehidupan sehari-hari, bila seseorang mempunyai kegemaran menulis, maka dia bisa menuangkan ekspresi yang kreatif di dalam karyanya. Mereka juga mudah menemukan jalan keluar dari permasalahan. Oleh karena itu, kita sebagai pelajar harus mampu mengubah dunia dengan sedikit coretan pena.

Kegiatan membaca juga bisa dijadikan dasar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan membaca, masyarakat dapat mengetahui berbagai sumber ilmu untuk dijadikan kajian teori. Dengan mengetahui kajian teori inilah, masyarakat mampu membuat sebuah karya tulis yang berisikan ide atau gagasan yang mampu mengubah pola pikir dan juga menciptakan penemuan baru. Membaca tentu saja tidak cukup untuk dapat berkarya. Tentu dengan menulisnya juga kita dapat menghasilkan karya. M. Anwar Djaelani yang merupakan penulis dari buku “50 Pendakwah Pengubah Sejarah” mengatakan bahwa banyak perubahan besar di dunia ini yang dipengaruhi karya tulis. Beliau juga memaparkan bahwa karya tulis merupakan salah satu faktor terpenting pemicu terjadinya berbagai perubahan di sekitar kita. Dari kutipan beliau, karya tulis sangatlah penting sebagai modal untuk merubah dunia.

Karya tulis merupakan suatu bentuk karya dari seseorang yang berisikan tulisan tentang ide-ide atau pendapat yang bertujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karya tulis sangat berperan aktif untuk mengetahui seberapa kemampuan kita untuk menciptakan serta mengemukakan ide atau gagasan kita. Melalui karya tulis ini, pemuda juga dapat pula menyalurkan hobinya. Seseorang yang mempunyai hobi membaca kemungkinan dapat menciptakan suatu karya tulis.

Karya tulis diciptakan dengan teori-teori yang didapat dari membaca, lalu dibendung dalam sebuah tulisan, sehingga terciptalah sebuah karya tulis baru. Semua orang mampu menciptakan karya tulis jika orang tersebut memiliki niat yang pasti, tekad dan juga usaha yang maksimal. Didalam karya tulis terdapat gagasan baru yang dapat diterapkan oleh seseorang. Dalam pembuatan karya tulis tentunya seseorang harus mempunyai pengalaman yang cukup untuk menuangkan gagasan kedalamnya. Melalui karya tulis, seseorang dapat mengekspresikan diri untuk mengungkapkan segala daya imajinasinya. Karya tulis juga merupakan media sebagai penunjuk ekspresi yang kreatif, dan estetif untuk menanggapi, menafsirkan, dan mengkritisi kehidupan sosial.

Menulis tidak harus di secarik kertas, tetapi menulis dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi yang ada saat ini. Dalam menulis sebuah karya, bahasa politik dan bahasa sastra diperlukan untuk menarik minat baca seseorang. Beberapa karya tulis juga dibuat untuk menumbuhkan semangat dan minat baca di masyarakat, sehingga karya-karya yang tercipta semakin banyak. Karya tulis juga bisa dijadikan media untuk menuangkan teori-teori yang ada. Jika tidak dengan membaca, bagaimana seseorang dapat memperoleh landasan teori? Untuk itu sekali lagi sangat ditekankan kepada masyarakat tentang budaya membaca.

Berbagai langkah dan upaya dilakukan agar minat baca warga negaranya meningkat dengan mendorong warganya memiliki kebiasaan kebudayaan membaca dan menulis. Di Jepang ada program atau gerakan yang bernama 20 minutes reading of mother and child. Gerakan atau program ini mengharuskan seorang ibu untuk mengajak anaknya membaca buku 20 menit sebelum tidur. ini adalah salah satu cara Jepang meningkatkan daya minat baca warganya. Setidaknya dengan 20 menit membaca, lalu dikembangkan dengan menulis, maka sebuah karya tulis sudah dapat dihasilkan. Karya tulis yang sederhana saja mampu mengubah keadaan.

Menulis mempunyai efek untuk membuat semua persoalan tertata dan rapi. Jika, persoalan tertata rapi, maka ide dan pola pikir untuk menyelesaikan masalah pun akan cepat diselesaikan. Ide yang dituangkan dalam kreatifitas akan muncul dengan sendirinya jika kita sudah terbiasa menulis dan mengolah kata dalam suatu tulisan. Untuk itu, mulailah perubahan dari sekarang. Luangkan waktu setidaknya 20 menit untuk membaca. Setelah kita rutin membaca, kembangkan dengan menulis sehingga berkarya akan menjadi lebih mudah. Berkaryalah untuk mengubah dunia. Karyamu akan selalu diingat bahkan setelah kamu meninggal.

Daftar Pustaka
Maulana, Ahmad. Mahir Menulis Artikel Ilmiah. Surabaya: Pustaka Al-Hikmah.
Data Perpus RI. 2017. Jumlah Pengguna Internet. Jakarta: Perpus RI
2017. Rendahnya Minat Baca di Indonesia. Jakarta: Majalah Beritasatu. (Kamis, 28 April 2016)
Dimas 16 Desember, 2014. Hal-Hal Penting Dalam Penulisan Daftar Pustaka. Suara Merdeka, halaman 5 dan 6.